Pena Siswa

PENGHUJUNG ASA

Oleh : Muhammad Edgar Fadhila / XI MIPA 1

Seorang perempuan berumur 22 tahun tengah sibuk dengan laptopnya dan fokus pada paperwork yang dia kerjakan. Perempuan kelahiran 3 mei 1998, yang berasal dari kota ukir, Jepara. Dhian, seperti itulah orang di sekitar memanggilnya, dengan perawakan tidak terlalu tingi, putih dan cantik, Dhian terkenal sebagai orang yang lemah lembut dan ramah, semasa kecil ia tergolong anak yang cukup pintar, karenanya, Dhian selalu mendapatkan ranking. Dalam prestasinya itu, Dhian memutuskan untuk bercita–cita sebagai apoteker. Dhian lalu mengambil SMK Farmasi di Kudus dan lulus dengan nilai yang cukup membanggakan. Akhirnya, Dhian memasuki dunia perkuliahan, ia menereruskan kuliah di Kudus, karena jaraknya yang lumayan dekat dengan rumah, hanya berbeda kota namun bisa di tempuh dengan sepeda motor. Dhian pun menjadi lulusan S1 kampus Stikes Muhammadiyah Kudus tahun 2016 dengan gelar S.farm. Untuk mengejar cita-citanya, dengan segera ia mencari informasi tentang tes PSPA.

Tes PSPA (Program Studi Profesi Apoteker) adalah sebuah tes yang diikuti oleh seluruh mahasiswa di INDONESIA, dengan catatan harus dari lulusan S1 jurusan farmasi, yakni dengan menyandang gelar S.farm. Tidak hanya itu, dalam tes PSPA ini, di butuhkan biaya pendaftaran sekitar satu juta rupiah, akan tetapi, tergantung dari pihak kampus yang menyelenggarakannya. Maka dari itu dalam mengikuti tes PSPA ini harus dilakukan secara sungguh sungguh.Pada dasarnya orang-orang berekonomi menengah ke atas terkadang hanya mengandalkan penghasilan orang tua sebagai pembiayaan kuliah dan lain-lain. Namun tidak untuk Dhian, ia yang seharusnya belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat lolos tes PSPA, dengan hati yang ihklas harus membagi waktunya antara belajar dengan bekerja di apotek sebagai karyawan. Dhian sudah bekerja selama kurang lebih 4 tahun terhitung dari 2016 hingga 2020 pada bulan maret, hal tersebut lumayan menguntungkannya dalam hal keuangan dan praktek kerja lapangan. Yang pertama, dalam segi keuangan Dhian sudah bisa membiayai kehidupannya sehari-hari walaupun terkadang belum sepenuhnya secara mandiri, Dhian juga bisa menabung untuk kebutuhannya di masa yang akan datang. Yang ke dua, dalam hal kerja lapangan atau praktik, setidaknya Dhian sudah tahu bagaimana langkah kerja sebagai apoteker nanti, bukan hanya itu, Dhian juga  menjadi tahu bagaimana sikap yang harus kita terapkan ketika bekerja, jikalaupun itu nantinya ia menjadi seorang apoteker ataupun karyawan perusahaan lain, kita tetap mengutamakan etika saat melayani konsumen.

Menginjak bulan November Dhian pun mencari tes PSPA dari Semarang, Bandung, sampai Jakarta, beruntungnya tes tersebut dilakukan secara online. Tidak dipungkiri mengapa Dhian sangat menggebu untuk mengambil tes PSPA ini, karena menjadi apoteker adalah cita-citanya sejak kecil. Dia mencari tes dengan semangat tekad yang kuat serta kerja keras. Namun, setelah diketahui ternyata hanya ada 52 prodi yang terdapat tes PSPA dan saingan dalam tes tersebut pasti tidaklah sedikit. Tidak hanya itu, ada beberapa kampus yang hanya menerima peserta tes PSPA dengan lulusan S1 dari kampus tersebut. Oleh karena itu, Dhian belajar dengan giat dan rajin, tidak lupa berdoa selalu agar lolos dalam tes. Mengingat tidak hanya Dhian yang belajar dengan giat, tapi ribuan peserta saling berusaha keras dan belajar hingga mati-matian agar bisa lolos tes PSPA. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ada yang mengikuti bimbingan belajar dengan nominal biaya yang berjuta-juta rupiah. Saat yang Dhian nantikan telah tiba yaitu tes PSPA, pada bulan November, yang diselenggarakan oleh kampus UNWAHAS (Universitas Wahid Hasyim, Semarang), ini lah kesempatan Dhian untuk menunjukan hasil belajarnya selama ini. Dan pada akhirnya hasil tes pun keluar, Dhian merasa kecewa ketika melihat hasil yang didapatkannya. “TIDAK LOLOS” itulah kaimat yang Dhian lihat pada layar laptopnya. Namun, itu tidak menyurutkan semangat api perjuangannya yang sudah membara sejak dini. Akhirnya dengan semangat yang menggebu Dhian mengambil tes yang ke dua kalinya di kampus yang sama. Tidak lama setelah itu hasil tes pun keluar, hasilnya tidak jauh berbeda dengan sebelumya. Akan tetapi, untuk kedua kalinya pula, hal tersebut tidak menyurutkan api perjuangan Dhian sedikitpun. Justru, membuatnya lebih termotivasi dan lebih bersemangat untuk mengejar cita-citanya hingga tercapai. Dhian pun mengambil tes yang ke tiga dengan penyelenggara kampus USB (Universitas Setia Budi, Surakarta). Setelah mendaftar dan mengirimkan persyaratan, Dhian pun belajar sangat giat untuk mengikuti tes tersebut dengan menaruh asa agar lolos.

Tes PSPA ini sedikit menguntungkan untuk para mahasiswa, karena dilaksanakan secara online. Yang pertama, seluruh mahasiswa dan siswi lulusan farmasi di Indonesia bisa mengikuti tes tersebut tanpa harus datang ke kampus yang menyelenggarakan tes. Tidak hanya itu, hal ini bisa menghemat biaya kita yang seharusnya digunakan untuk datang ke kampus yang mengadakan tes PSPA. Tes PSPA yang ke tiga kalinya Dhian ikuti, hasilnya tetap “TIDAK LOLOS”. Pada dasarnya tes tersebut adalah jalan menuju cita-citanya, akan tetapi hal itu tidak membuat mentalnya terpuruk. Menjadi apoteker ialah cita-citanya yang sudah terukir sejak dini serta tekadnya yang telah berkobar dalam menggapai mimpi-mimpinya setinggi mungkin. Kegagalan yang Dhian alami sebanyak tiga kali ini, sama sekali tidak membuatnya menyerah sedikitpun. Hingga akhirnya Dhian mengikuti tes yang ke empat kali dengan penyelenggara pihak UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), sekaligus tes ke lima yang dibuka oleh kampus UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto). Hasil dari kedua tes tersebut telah keluar, Dhian kembali lagi dengan hasil yang mengecewakan hatinya. “TIDAK LOLOS”, kata yang menyakitkan untuk kebanyakan orang di luar sana, dan terkadang orang bisa stres dibuatnya, hanya karena kalimat tersebut. Saat setelah itu, pihak UNISULA (Universitas Islam Sultan Agung, Semarang) mengadakan tes PSPA, Dhian yang mengetahui akan hal itu secepat mungkin mendaftarkan dirinya. Sesudah mendaftar, ia diharuskan membayar biaya administrasi, saat itu Dhian terkejut dengan nominal biaya yang harus ia bayar. Karena biaya yang harus dikeluarkan untuk tes kali ini lumayan besar, akhirnya Dhian mengundurkan diri dari tes kali ini, karena dirasa terlalu mahal untuknya. Pada beberapa bulan berikutnya kesempatan untuk mengikuti tes PSPA datang lagi, kali ini berada di kampus USD (Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) dan UBK (Universitas Bung Karno, Jakarta), itu adalah ke enam dan tujuh kalinya Dhian mengikuti tes. Entah apa gerangan, kalimat “TIDAK LOLOS” selalu menyelimutinya saat itu, ia sama sekali tidak merasa terpuruk. Api tekad perjuangannya akan selalu berkobar dan tidak akan membuatnya patah semangat sebelum dan selau bersungguh-sungguh.

Dengan semangat perjuangannya Dhian melanjutkan perjalanannya menggapai cita-citanya sebagai apoteker. Ia mengikuti tes yang ke delapan kalinya yang diselenggarakan oleh ISTN (Institut Sain Dan Teknologi Nasional, Jakarta) dan tes kali ini Dhian berusaha dengan keras. Setelah beberapa minggu dari pelaksanaan tes hasilnya pun telah keluar, ketika ia membaca hasilnya, Dhian dinyatakan “LULUS” pada seleksi tes kali ini, ia sangat senang, akhirnya perjuangannya selama ini agar lolos tes PSPA bisa tercapai setelah tujuh kali percobaan. Dhian pun telah diterima oleh pihak kampus ISTN Jakarta sebagai mahasiswi di sana, dan untuk kuliah kali ini ia hanya memerlukan waktu 1 tahun untuk lulus dan mendapatkan gelar Apt.,. Pada akhirnya semua yang kita usahakan akan tercapai jika kita tidak mudah patah semangat dan selalu bersungguh-sungguh. Terkadang kita di hadapkan dengan berbagai situasi, yang bisa saja mendukung atapun menjatuhkan diri kita sendiri, dalam hal ini kita harus selalu siap tekad dan mental yang kuat agar bisa melewati semua rintangan tersebut. Dan apapun yang kita usahakan dengan sungguh-sungguh pasti akan memberikan hasil yang baik dan akan mengiringi perjuangan kita selalu. Di dalam sebuah tes ataupun ujian apapun itu kita harus selalu melakukan yang terbaik, entah dengan cara apapun, salah satu cara yang bisa kita gunakan adalah belajar. Jika kalian belajar dengan sungguh-sungguh, rajin, serta giat maka apapun yang kalian usahakan, impikan dan kalian kejar pasti akan tercapai pada waktunya, berbeda jika kita bermalas-malasan belajar, semua yang kita usahakan hanya akan menjadi sebuah impian yang terlantar.