Cakra Manggilingan

Oleh : Nur Sayyidah / XII Mipa 1

Masyarakatnya makmur, maka negerinya pun akan ikut berbahagia. Negerinya damai, maka bumi yang dihuni pun akan ikut berbahagia. Pada dasarnya, kebahagiaan telah menjadi hak pada setiap masing-masing manusia. Keputusan hidup ditimang kesengsaraan maupun kesenangan, sejatinya bukan urusan pemerintah maupun negara tapi itu semua bergantung pada diri sendiri; Kiranya seperti itulah pemahaman pria asli Karimunjawa yang lahir 21 Juni 1980 lalu ketika diminta memberikan pendapat mengenai kebahagiaan.

Terlahir dengan latar belakang keluarga yang tidak sepenuhnya utuh, membuat Lazim tumbuh menjadi manusia yang dengan teguh menanamkan prinsip hidup yang didapatnya setelah melalui berbagai macam manis dan pahit kehidupan. Sejak kecil, keadaanlah yang memaksanya hidup mandiri dan tegar, memang tidak mudah menjadi salah satu anak korban perceraian orangtua. Apalagi saat itu dia masih berusia kurang lebih dua belas bulan, ketika Bapak yang harusnya menjadi panutan sekaligus contoh baik untuknya  memilih meninggalkan Ibunya. Sedangkan Ibu yang harusnya merawat dengan baik, memilih menikah dengan pria lain dan menyerahkan Lazim agar diasuh sang nenek. “Saya mengerti bagaimana rasanya hidup berkekurangan rasa kasih juga sayang, maka itulah alasan saya berjanji tidak akan pernah meninggalkan keluarga saya apapun yang terjadi.” Katanya ketika sepercik kenangan masa kecil kembali menyapa dirinya.

Karimunjawa tahun 1992, saat itu Lazim berusia kurang lebih 12 tahun, dia pergi meninggalkan desanya dan merantau ke berbagai kota. Tidak ada sekolah yang menerimanya saat itu selain karena tidak adanya biaya, waktu untuk duduk dan membaca buku pun tidak ada. Dia harus bekerja keras untuk bisa membiayai hidupnya sendiri, untungnya masih ada sekolah gratis yang diberikan Tuhan untuk Lazim, yaitu pengalaman. Selama hampir 25 tahun, Lazim seakan haus dengan ilmu-ilmu baru di bidang furniture. Rasa kecewa, marah, lelah serta bahagia seakan memberikan pelajaran di setiap kejadian. Pada akhirnya, dengan segala bekal pengalaman yang dia dapatkan serta keberanian untuk merubah hidupnya; Lazim Furniture resmi lahir tepat di Bekasi 7 tahun lalu. Bukan keputusan mudah memang, memilih mendirikan usaha sendiri dan berjuang lebih keras lagi.

“Saya itu salah satu orang yang sangat percaya dengan pepatang Jawa Cakra Manggilingan, bahwa hidup adalah roda yang berputar. Saya sudah mengalaminya, berulang kali.” Kata Lazim dengan mata berapi-api. Tahun ke-lima usahanya berjalan lancar, menyusul tahun-tahun berikutnya yang terkadang pasang juga surut. Sampai pada tahun 2020, dunia seakan mengalami masa kritis ekonomi, akal, dan mental. Musibah demi musibah mengantre waktunya untuk tampil di hadapan manusia, jika sudah lemah mental maka semakin kritislah akalnya, sedangkan jika akal melemah maka perlahan nurani manusia turun kualitasnya dan ekonomi tumbuh diantara mental dan akal manusia.

Tepat Senin, 2 Maret 2020 Indonesia  resmi ikut terpapar virus covid-19. Pekerjaan-pekerjaan yang awalnya berjalan monoton perlahan terbakar, hangus hingga menghilang. Lazim sadar jika memang kesehatanlah yang penting saat itu, maka dengan berat hati dia kembali ke desa bersama istri dan kedua anaknya. “Saat itu saya sedih, menyakitkan rasanya kembali ke desa dengan segenggam kegagalan yang saya alami. Saya merasa telah mengecewakan keluarga saya.” Kata Lazim dengan nada bicara bergetar.

Waktu berjalan begitu saja, Karimunjawa membawanya kembali pada sepenggal kenangan masa kecilnya. Dahulu, tahun 1988 ketika seluruh temannya bisa mendapatkan sepeda hanya dengan cara merengek dan menangis kepada orangtuanya, berbeda dengan Lazim. Dia harus bekerja keras membabat rumput di jalanan untuk membeli sebuah sepeda. Selagi tertawa miris dia mengatakan, “Tidak mudah dulu itu, saya harus bekerja keras untuk sebuah sepeda. Tapi yang paling membuat saya sakit, ketika ingat dahulu banyak sekali orang yang meremehkan saya.” Begitu akhir kalimatnya selagi menyeka air mata di sudut matanya.

Sejauh ini, Lazim Furniture tiba-tiba hening tanpa pemasukan sama sekali, tidak ada pesanan pembuatan furniture sama sekali. Padahal, ada beberapa hutang modal yang harus dia bayar. Tidak ada jalan lain selain bertahan dan sabar saat ini. Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukmo. Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan. Covid-19 benar-benar mengujinya tahun ini. Sisi lain rumah berbahan batu bata dengan arsitektur unik yang dirancang Lazim sendiri, seakan menjadi sorotan sejak rumah itu dibangun, orang-orang desa mengira Lazim hidup bergelimang harta tanpa beban. Padahal Lazim bisa membangun rumah itu karena beban besar dipundaknya yang dengan baik mampu dia selesaikan. Pemerintah desa seakan membutakan penglihatannya ketika mendaftar nama-nama penerima bantuan terdampak covid-19 di desanya. Berbagai macam pandangan baru muncul berspekulasi,  “Miskin harus dapat dikarenakan miskin, Kaya tak perlu dapat karena kaya, dan sederhana tak perlu dapat karena hidup cukup.” Kiranya begitu salah satu diantara banyaknya penegasan orang-orang di desa Karimunjawa ketika beradu meledakkan teori-teori baru.

Pada intinya kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami si miskin, si kaya, dan si sederhana. Bisa jadi si miskin begitu bahagia dengan hidupnya meskipun mendapat anggapan miskin, si kaya bersedih karena mencemaskan kekayaanya, dan si sederhana kebingungan mengatur uang untuk hidup di hari ini. Tugas yang sangat berat memang, yang di lakukan aparat negara ketika bertugas mengatur kepada siapa bantuan diberikan, apalagi ekonomi dalam kondisi sulit seperti ini. Tidak sedikit manusia yang menjerit-jerit minta tolong untuk dibebaskan dari kesengsaraan, tetapi kembali lagi pada pola pikir pendiri Lazim Furniture yang ada benarnya juga. Semua tergantung pada diri sendiri. Manusia memiliki kendali atas dirinya sendiri, keberanian untuk bertahan hidup atau tangisan untuk mengeluhkan hidup, selamanya ada pada diri sendiri. Tentu saja dengan Kuasa Tuhan.  

 Nama Muhammad Lazim sebagai kepala keluarga dengan dua anak, yang kehilangan penghasilan sehari-harinya serta terpakasa menjeda usahanya karena covid-19, aparat desa tidak tertarik sama sekali untuk memasukkan namanya sebagai penerima bantuan orang terdampak covid-19. Bukannya Lazim merengek mengais bantuan,  tetapi kebanyakan orang-orang yang menerima bantuan ialah warga yang masuk dalam daftar “membutuhkan” atau bahkan mengaku “kekurangan” karena rumah lusuh yang dimiliki beratap bocor selagi mengeluhkan hidup ke setiap tetangga, tetapi isi dalam salah satu lemarinya, tersimpan banyak perhiasan mewah yang sengaja disimpan selama bertahun-tahun.

Lazim hanya bisa tertawa selagi menyaksikan. Mungkin dia memang tidak berhak marah dan menuntut kelayakan hidupnya sendiri, Tuhan masih memberinya kesehatan untuk terus bekerja. Lazim memilih fokus bertahan, dia tidak boleh larut dalam kesedihan. Begitu pula manusia-manusia cerdik lain yang mau berusaha bertahan dan bahagia dengan cara sederhananya, juga Indonesia yang bahagianya pasti akan dipasrahkan lagi oleh Tuhan.

Demi memperjuangkan usaha yang telah dibangunnya selama kurang lebih 8 tahun, Setiap hari Lazim ikut pergi melaut bersama saudaranya untuk memancing cumi-cumi dan menjualnya. Meskipun harus pulang dalam keadaan mabuk laut karena gelombang yang cukup tinggi dan keesokan harinya dia bekerja menjadi kuli bangunan di salah satu resort yang di bangun di desa. Begitu seterusnya, entah akan berakhir seperti apa Lazim tidak peduli, dia hanya terus percaya dan berkata lantang, “Dhuwur wekasane, endhek wiwitane. Setiap luka pasti akan pulih dan membaik, setiap kesengsaraan akan membuahkan kemuliaan. Saya kira ini bukan akhir, tapi saya dikembalikan ke awal lagi untuk berjuang.”

Pagi ini, waktu Indonesia bagian barat menunjukan pukul 06.30, Lazim masih baik-baik saja dan bersiap pergi bekerja. Jika dia senantiasa siap menerima kebahagiaan sebesar apapun, maka dia juga harus mampu menerima cobaan sebesar apapun itu. Kebebasan dalam berspekulasi, beropini dan berbicara tertuang jelas dalam undang-undang yang ada di Republik Indonesia ini. Sedangkan bagaimana masing-masing orang yang mampu bahkan tidak membatasi dirinya agar jangan sampai menyentuh keburukan, adalah sebuah pilihan. Urip kang utama, mateni kang sempurna, selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Anggapan warga sekitar terhadap hidup Lazim yang pada kebenarannya kadang keliru, sudah Lazim ikhlaskan. Lazim tidak akan menuntut kebahagiaannya sendiri, dia hanya sedang berusaha tertatih-tatih memperjuangkan kebahagiaanya. Berbicara mengenai kebahagiaan, lalu bagaimana dengan Indonesia? Kebahagiaan seperti apa yang rakyatnya cari selama ini? Tidak ada yang pernah tahu, karena pada setiap sudut lain suatu masyarat memiliki takaran kebahagiaan yang luas. Indonesia adalah kita. Perjuangan kita adalah perjuangan indonesia.Sedih atau senang, Tuhan punya takaran yang tepat untuk hidup kita. Berhasil atau gagal, Tuhan tahu mana yang terbaik dan terburuk. Lazim adalah salah satu dari sekian banyak orang yang roda hidupnya sedang diputar, bagaimana cara kita menyikapi dan bertahan adalah kunci keberhasilan. Begitu pula dengan Indonesia, setelah 75 tahun berhasil mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah, sebentar lagi, Indonesia pasti akan segera pulih dan keluar dari lingkaran virus covid-19 yang cukup mengacau negeri. Keberhasilan akan menjadi giliran ketika roda hidup akan diputar lagi, kebahagiaan akan kembali merengkuh Indonesia pada saat yang tepat. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha dan berjuang keras kendati sesekali meracau kelelahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *