NGUKIR KAHURIPAN

Oleh : Vila Saputri / XI BAHASA

Hidup itu berjalan, meski banyak hambatan. Orang lain tidak peduli pada kehidupan yang kita jalankan. Tetap semangat menuju kesuksesan.

Beberapa anak beruntung dilahirkan di tengah keluarga yang cukup materi, sisanya beruntung diberi hati dan tulang untuk berusaha sendiri. Sama seperti halnya anak desa ini, Rifa’in lelaki kelahiran Jepara, 5 maret 1979 tinggal di desa Kecapi Nganjir, Jepara. Anak ke-7 dari 8 bersaudara dari pasangan Kasto Kasmin dan Tarmisih, yang berprofesi sebagai petani. Dengan kerja keras ia mampu mengubah derajat orang tua dan mengubah pemahaman orang tua mengenai pendidikan. Menurut ayah Rifa’in ini, bahwa sekolah tidaklah penting, “untuk apa kamu ke sekolah ujung ujungnya jadi petani, berpendidikan tidak akan ada gunanya lebih baik kamu bantu orang tua di sawah”. Atas perkataan ayahnya justru membuat ia semakin memberontak dan ingin membuktikan bahwa berpendidikan membuat seseorang akan lebih dihargai.

Sekolah Dasar adalah masa yang paling menyenangkan untuk bermain bersama teman-teman, bercanda tawa dan bergembira ria. Tapi justru sebaliknya, Rifa’in ini yang dulunya sekolah di SDN 2 Kecapi pada tahun 1992, harus mengorbankan waktunya untuk belajar mengukir dan bercocok tanam. Sejak kecil Rifa’in dididik sangat keras oleh ayahnya bahwa laki-laki tidak boleh lemah, harus bisa mandiri dan berani. Sehingga Rifa’in memiliki jiwa ambisi yang sangat tinggi. Di sekolah Rifa’in termasuk murid yang berprestasi serta tauladan karena kedisiplinannya membuat ia menjadi juara kelas. Pergi dan pulang sekolah Rifa’in selalu berjalan kaki dan harus menyeberangi sungai sekitar beberapa kilometer, tetapi tidak menjadi hambatan Rifa’in untuk terus belajar, belajar, dan belajar.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar pada tahun 1996, Rifa’in melanjutkan pendidikannya ke MTs. Tsamrotul Huda, Kecapi. Saat di bangku kelas VII, Rifa’in sudah mandiri karena  sepulang sekolah, ia bekerja mengukir kayu. Sambil mengukir, Rifa’in juga belajar mata pelajaran di sekolah yang diajarkan oleh bapak ibu guru. Dan mengulanginya lagi agar kelak saat ada ulangan ia tidak perlu menghafalkan seluruh materi. Setelah mengukir tidak lupa ia untuk membantu orang tua di sawah. Membajak, mencangkul, mengairi sawah, dan menanam padi. Kegiatan sehari-hari Rifa’in juga pun mengembala kambing, bahkan jumlah kambingnya lebih dari 20 ekor. Rifa’in adalah sosok yang menghagai waktu. Sambil mengembala ia tetap menyempatkan untuk belajar. Menurutnya semua kegiatan yang dilakukan dalam waktu bersamaan ialah sangat efektif, daripada kita membuang-buang waktu dengan hal yang tidak bermanfaat. Belajar terus-menerus dan mengulanginya lagi, akan membuat otak kita berfungsi dengan baik sehingga tidak akan mudah lupa.

Suatu ketika, saat mengembala kambing, Rifa’in memanjat pohon yang begitu besar hingga akhirnya ia terjatuh. Tangannya terluka parah hingga ia tidak bisa pergi ke sekolah selama satu bulan lebih. Rifa’in sangat bersedih hati karena tidak bisa belajar bersama dengan teman-temannya di sekolah. Dengan begitu, ia menghabiskan masa istrirahatnya selama di rumah dengan belajar. Rifa’in tidak pernah sekalipun bosan dengan belajar, baginya belajar adalah pondasi utama untuk menuju kesuksesan. Tidak punya uang saku atau biaya sekolah tidak apa, yang penting punya niat ikhlas dan tulus untuk menuntut ilmu.

Agar tidak menjadi anak yang selalu bergantung pada orang tua, akhirnya Rifa’in memutuskan tetap bekerja mengukir kayu, untuk membiayai sekolahnya. Setelah lulus dari MTs. tahun 1999 dengan nilai terbaik Rifain melajutkan sekolahnya ke SMEAN Jepara. Keadaaan tidak selalu berpihak pada Rifa’in, selalu saja ada badai dalam kehidupannya namun ia tidak patah semangat. Sempat terhalang restu orang tua untuk sekolah, bahkan Rifa’in pergi ke sekolah secara diam-diam agar sang ayah tidak mengetahuinya. Rumah dan sekolah Rifa’in jaraknya sangat jauh, jika jalan kaki akan membutuhkan waktu yang lama. Dengan demikian Rifa’in rela menguras tabungannya untuk membeli sepeda onthel agar dia bisa datang ke sekolah tepat waktu. Dulu saat mengendarai sepeda onthel miliknya, Rifa’in hampir terserempet oleh sepeda motor. Hari-harinya tidak begitu mudah karena setiap pagi menurutnya adalah menjalani tantangan baru, namun ia berhasil membuktikan pada dunia bahwa ia bisa. Alasan satu-satunya kenapa Rifa’in tetap ingin melanjutkan pendidikannya adalah “Orang yang berpendidikan ialah orang yang berilmu dan Allah pasti akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu” tuturnya. Membagi waktu antara sekolah, bekerja (mengukir kayu) dan bertani (membantu orang tua), tidaklah mudah. Saat sekolah banyak tugas yang harus dia selesaikan, dan pekerjaanya mengukir kayu dikejar setoran, kewajiban membantu bertani, kadang semua kegiatan tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan. Cara menghadapi masa sulit tersebut menumbuhkan untuk tetap bersemangat secara lahir batin dalam bertahan dan menghadapi hidup bahwa ia harus membagi waktu dan mengatur aktivitas atau kegiatan seefektif mungkin.

Semakin banyak tantangan akan semakin banyak kemajuan, dan semakin tinggi seseorang akan semakin kencang juga angin yang mengguncang. Saat menduduki bangku SMEA membuat Rifa’in semakin kuat hatinya untuk menghadapi hidup karena diterpa berbagai masalah, salah satunya adalah biaya sekolah. Uang dari hasil kerjanya mengukir kayu tidaklah seberapa untuk membayar spp sekolah, sempat mau berhenti tapi, ibunya tetap mendukung anaknya. Ibu Tarmisih kadang diam-diam memberi uang saku dan biaya spp kepada Rifa’in agar tidak diketahui oleh ayahnya. Jika ayahnya mengetahui hal ini akan sangat marah. Sebab, dari awal sang ayah tidak menyetujui putranya untuk bersekolah sehingga uang saku dan biaya sekolah tidak diberikan kepada Rifa’in. Namun Rifa’in tidak sedikitpun dendam atau sakit hati kepada ayahnya, justru dia berpandangan lain. “Karena kedua orangtua tidak bisa baca tulis dan petani tulen, maka saya harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sekolah”, ujarnya. Rifa’in sadar, bahwa ia terlahir bukan dari keluarga kaya, maka kekayaan itu harus berasal darinya. Ketekunan dan tekad bulat, apapun masalahnya entah itu keterbatasan biaya Rifa’in terus memikirkan caranya agar ia bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tanpa harus membayar. Allah maha adil, Allah maha biajaksana. Dengan niat setulus hatinya, Allah selalu mempermudah jalannya untuk meraih mimpinya menjadi seseorang yang berilmu. Alhasil dengan usaha dan do’a ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya itu.

Pada tahun 2006, Rifa’in melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi di UMK (Universitas Muria Kudus). Banyak prestasi yang ia capai, salah satunya menjadi ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). “Meski pada saat pemiihan dari semua calon, yang tidak duduk dikursi pencalonan adalah saya, tetapi justru malah saya yang mendapatkan suara mutlak terbanyak” kata Rifa’in yang tidak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi ketua BEM. Dengan mengayuh sepeda onthel kesayangannya setiap hari sebagai kendaraan transportasi yang pasti untuk pergi ke kuliahnya. Lain sisi, Rifa’in memiliki watak jail juga, bahkan ia pernah nabrak sepeda onthel milik teman-temannya. Ia juga pernah nabrak becak. Meskipun begitu Rifa’in sangat disukai oleh teman-temannya karena sikap jailnya mampu membuat tertawa. Rajin dan ulet adalah ciri khas dari Rifa’in, karenanya ia mendapat beasiswa dari kampus. Sungguh bahagianya ia, karena anak desa yang tidak punya apa-apa hanya bermodalkan niat dan tekun bisa berada sampai dipuncak titik ini. Tapi, semua itu tidak membuat Rifa’in besar kepala atas apa yang ia capai, tetap rendah hati serta selalu bersyukur kepada Allah. Berkat do’a dan dukungan sang ibu tercinta akhirnya ia mampu menyelesaikan perguruan tinggi dan mendapat gelar sarjana. Satu kalimat yang pernah disampaikan ibunya kepada Rifa’in, “sekolaho sing duwur le, mbesok bakal dadi guru” (tetap terus sekolah nak, suatu saat kamu pasti bisa menjadi guru). Ucapan adalah do’a, ucapan yang diucapkan oleh ibunya Rifa’in menjadi kenyataan sungguhan. Rifa’in adalah anak satu-satunya di keluarga yang bisa menjadi sarjana dan menjadi kebanggaan. Dengan ia berpendidikan bisa mengubah dunianya dan masa depannya agar tidak suram. Rifa’in juga mampu membuktikan kepada sang ayah bahwa dia bisa menjadi orang yang disegani. Bapak Kasmin sangat bangga pada putranya tidak menyangka yang sebelumnya usahanya telah ia remehkan akhirnya menjadi buah hasil yang sangat luar biasa. Sekarang Pak Kasmin telah percaya bahwa berpendidikan tinggi itu sangat perlu apalagi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Anak muda harus terus berkarya jangan mau menjadi manusia yang biasa-biasa saja, tapi harus bisa menjadi manusia berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. ”Ilingo le, meski koe sukses ojo nganti ninggalke tani amergi iki biso nguripi dulur, anak, lan putu-putumu” (Ingatlah nak, meski kamu sudah sukses jangan sampai meninggalkan pertanian ini karena bisa menjadi penghidupan untuk saudara, anak, dan cucu-cucumu), ujar dari sang ayah kepada Rifa’in. Kata-kata itulah yang masih membekas pada Rifa’in.

Setiap manusia punya kekuatan untuk berjuang, berikhtiar, berdo’a, serta berserah diri, yang pada akhirnya Allah yang menentukan semuanya atas usaha hamba-Nya dan itu pasti yang terbaik. Alasan Rifa’in menjadi guru adalah karena do’a dari sang ibu yang tulus tidak pernah putus-putus. Setelah memutuskan untuk mengajar di MTs. Tsamrotul Huda, Kecapi (yang dulu menjadi sekolahnya). Rifa’in terus mengembangkan skill nya di bidang pertanian dan selalu memprioritaskan pesan ayahnya tersebut. Hingga akhirnya ia mendirikan organisasi Kelompok Tani yaitu KELOMPOK TANI MAKMUR II, yang berdiri di Desa Kecapi Nganjir RT 21, RW 04. Tujuan didirikannya ialah untuk melestarikan alam dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa seperti buruh tani dan membuka peluang usaha bagi ibu-ibu untuk mengolah bahan pangan yang berasal dari alam. Selain menjadi guru dan ketua kelompok tani, Rifa’in juga terlibat dalam organisasi BPD (Badan Permusyawaratan Desa) yang berfungsi menetapkan peraturan desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya adalah salah satu prinsip yang dimiiki oleh Rifa’in karena pengalaman tidak dapat dibeli oleh apapun. Di dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Dibalik pengorbanan pasti ada kemenangan. Walaupun Rifa’in memilki masa-masa yang sangat sulit mulai dari bertani sejak kecil, bekerja mengukir kayu, menggembala, tidak direstui dan disepelekan oleh ayahnya dalam mengenyam pendidikan, mencari uang sendiri untuk pendidikannya. Tapi, usaha memang tidak akan menghianati hasil. Buah kemenangan yang dinanti-nanti Rifa’in telah tiba. Akhirnya ia mampu bangkit dan membuktikan pada ayahnya bahwa mimpi itu harus diwujudkan. Mimpi bukan hanya sebagai imajinasi atau khayalan, tapi bisa untuk diwujudkan. ”Jika kamu suka tidur dan bermimpi, maka bangunlah dan wujudkan mimpi itu karena siapapun bisa jadi apapun. Jika kamu bukan berasal dari keluarga kaya, maka kekayaan itu harus berasal dari kalian” tutur Rifa’in. Menurut Rifa’in kunci sukses ada 5; semangat hidup (manajemen waktu), berjuang menghadapi kondisi apapun (lahiriah), berdo’a (sholat wajib, sunnah, ikhtiyar batiniyah), berserah diri (pasrah marang kang murbeng jagad), serta mohon restu dan ijin orang tua dalam setiap langkah insyaallah berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *