SENI DI KACA MILLENNIAL

Oleh : Alma Syahwalani / XII Bahasa

Keindahan, ketentraman jiwa dan pikiran yang termaktub dalam goresan tangan menyatu menjadi satu menjadi sebuah karya seni yang dinikmati para insan. Seperti pegiat seni berkelahiran, Jepara 28 Januari 1984 yang bernama Hedy Ashrofi kerap di sapa dengan Hedy Hedod ini ialah seorang pecinta seni yang merintis karirnya sejak menempuh pendidikan di IKIP Jakarta, sekarang berubah nama menjadi UNJ (Universitas Negeri Jakarta).  Hedy Hedod mengajar di  “Cyber Media Collage” dan “Labschool” yang bertempat di Jakarta selama kurang lebih 10 tahun. Hedy Hedod kembali melanjutkan mengajar di TK Pangreksa Batealit Jepara dan TK Pertiwi Tahunan Jepara. Selain mengajar di beberapa sekolah, Hedy Hedod memiliki sanggar lukis yang bernama “Hedy Hedod Art” yang sudah di rintis sejak tahun 2015. Sanggar lukis yang memiliki estetika nan apik tersebut memiliki tujuan dan visi-misi, yaitu memasyarakatkan seni kepada lingkungan sekitar agar memiliki pengetahuan yang luas bahwa seni sebetulnya tidak mencetak seseorang menjadi seniman murni. Tetapi kecenderungan mengubah manusia itu menjadi lebih kreatif secara skills.

Bisa kita rasakan bagaimana dunia mulai meremajakan teknologi yang kian berkembang pesat. Sehingga banyak sekali remaja yang minim akan edukasi perihal seni, terutama seni lukis. Sekarang, cukup banyak remaja yang lebih suka mengukir seni nya melewati design. Akibatnya seni lukis jarang sekali dijumpai di era millennial oleh anak – anak remaja.  “ Seni lukis di era millennial itu sebenarnya, anak – anak muda harus belajar kembali tentang seni. Seni itu bagian dari budaya. Kecenderungan kalau kita berkaca ke masa lalu pada perekembangan seni di era Soekarno.” Ujar Hedy Hedod dengan nada bicara santai.  “Bagaimana menciptakan anak – anak mulai dari usia dini itu sudah mengenal seni? Yaitu kalau kita terjun ke dunia seni nantinya anak – anak akan mengerti fungsi seni itu sendiri.’ Sambung Hedy Hedod kembali.

Perlu kita tahu bahwa dari aktivitas anak – anak dengan goresan tangan kecilnya ke berbagai media yang ia jumpai, itu sebetulnya adalah awal dari seni itu tumbuh didalam diri nya dan akan menjadi motoric anak kedepanya. Menurut Hedy Hedod, seni itu merupakan basic dari semua kreatifitas. Sehingga ketika anak remaja belajar seni, mereka akan memiliki potensi untuk menjadi generasi millennial yang lebih maksimal. Di era millennial sekarang ini, anak – anak remaja menjadi lebih berani untuk memulai belajar mengenai seni. Dari seni mengajarkan kita kesabaran, kedisiplinan, kreatifitas hingga rasa tanggung jawab.

“ Pada saat menggores merah ya harus merah. Pada saat menggores putih ya harus putih. Tidak boleh setengah – setengah.” Ujar Hedy menekankan nada bicaranya. Makna yang dimaksudkan adalah ketika kita memulai belajar sesuatu harus sepenuhnya, tidak boleh setengah – setengah. Agar ilmu yang kita gali, nanti akan lebih maksimal sesuai apa yang kita harapkan. Lelaki berumur 36 tahun itu sudah memasarkan beberapa karyanya. Ada juga yang sudah laku terjual untuk dinikmati orang umum. Karena dulu Hedy Hedod pernah menempuh pendidikan di Jakarta, pemasaran karyanya sebagian juga ada di sana dan selebihnya ada di Jepara. Hedy Hedod tergabung dalam forum seni lukis di Jepara yang bernama “ASTA”. ASTA sendiri bukan sebuah nama singkatan forum. Namun nama forum ini memiliki keunikan. “ ASTA itu simbolis yang diambil dari bahasa Jawa yang berarti tangan, tangan yang kita gunakan untuk meminta, memohon, berdoa dan sebagainya. Bahwa lewat tangan itulah saya dan teman – teman berkreasi.” Ujar Hedy Hedod.

Hedy Hedod dan kawan – kawannya setiap tahun memiliki event tahunan. Event tahunan tersebut bertujuan untuk mengangkat budaya – budaya yang ada di Jepara. Hedy Hedod kerap membuat mural bersama kawan – kawannya di Jepara. “ Karena di masa pandemic ini tidak ramai seperti tahun lalu, acara melukis mural ini hanya ada sedikit orang saja. Dan kegiatan ini dibagikan kepada masyarakat secara virtual melewati kanal youtube.” Tutur Hedy Hedod. Hedy Hedod juga menyampaikan pesan kepada anak muda bahwa, ketika kita mempunyai hobi atau bakat perihal seni maka harus dikembangkan. Jikalau tidak memliki bakat di bidang seni tidak ada salahnya untuk mencoba. Karena profesi apapun yang kita tekuni, alangkah lebih indah dengan belajar sendikit tentang seni agar kehidupan kita memiliki keseimbangan.

Oleh karena itu banyak sekali hal yang perlu kita gali dan kita kembangkan. Semua berawal dari hal – hal yang sederhana. Memulai dari seni atau profesi apapun yang kita tekuni tidak menghambat keinginan kita menambah pengetahuan terhadap budaya – budaya Indonesia. Seperti Hedy Hedod yang selalu konsisten mempertahankan seni lukis dan menggelorakan budaya Indonesia melalui pikiran dan jiwanya untuk berkarya di bidang seni lukis. Motivasi yang diberikan Hedy Hedod,  sangat mengharapkan anak Indonesia agar tetap semangat menjadi generasi millennial yang kreatif dan lebih menghargai budaya Indonesia. Badai memang sering kali datang dan pergi. Jikalau kiita memiliki tekat yang kuat untuk konsisten di dunia yang kita tempuh, dunia itu akan menjadi suatu hal yang sangat berharga di masa depan. Tidak harus melalui seni, penyeduh kopi, pengagum senja, bahkan anak metropolitan mempunyai mimpi yang ingin mereka gapai kelak. Cari inspirasi, mulai belajar kembali dan bebaslah berkreasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *